Denpasar , 20 September 2011
Sudah seminggu aku berada dirumah sakit dan Senja selalu menjengukku . Semenjak aku diantarnya ke rumah sakit yang berujung dengan disuruh opname lusanya , Senja tak sedikit pun tak menemaniku . Seperti malam ini , dia sudah berada disamping tempat tidurku . Ada yang harus kukatakan saat ini , kalau tidak entah kapan aku bisa mengatakannya .
"Kamu gak apa-apa?" , tanyanya saat aku terbatuk cukup keras . Aku menggeleng dan tertawa lirih .
"Kamu gak cocok pasang tampang cemas kayak gitu!" , ucapku yang membuatnya menjitak keningku halus . Aku lalu meraih tangannya dan menggenggamnya membuatnya tampak salang tingkah .
"Kamu juga gak pantas salting kayak gini!" , godaku .
"Aku mau ngucapin terima kasih padamu karena menemaniku selama ini!" .
"Karena membawaku ke tempat terindah itu untuk melihat senja dan Senja....." , aku menghela nafas berat .
"Ren , jangan ngomong dulu deh , tampangmu tambah pucat dan jadi jelek , bikin aku males liatnya!" , Senja mencegahku melanjutkan bicaraku .
"Aku gak apa-apa kok!" , ujarku .
"Gak , kamu gak oke!" , bantahnya .
"Aku harus ngomong Sen!Aku harus bilang terimakasih , karena kamu udah bikin aku gak ngerasa jadi orang terakhir!" .
"Orang terakhir?" , tanyanya bingung .
"Orang terakhir adalah orang yang diingat saat kamu sedih atau susah saja , tapi saat kamu bahagia kamu pasti akan melupakannya!Maksudku itu!" , Senja manggut-manggut mendengarkan penjelasanku .
"aku sering merasakan itu tapi karenamu aku sudah lupa akn itu!Thanks Senja!Makasih , karena membahagiakanku!" .
"Iya..iya , muka kamu tambah pucat tauk!Udah tidur aja!" , dia menutup mulutku untuk mencegahku bicara lagi . Aku mengangguk pasrah . Setidaknya sudah kukatakan .
"Tidurlah Rena!" , dia mencium tanganku yang menggenggamnya .
"Berbahagialah Senja!" , ucapku lirih sambil tersenyum lalu menutup mata .
------------
Mimpiku sudah sampai pada batasnya . Mimpi akan lorong putih itu yang sering datang belakangan ini . Aku sudah menemukan ujungnya , sebuah padang rumput hijau yang luas dan indah . Seorang wanita yang tampak cantik dan lembut menyambutku . Dia tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku .
"Selamat datang!" , sapanya dan aku mengangguk lalu mengikuti tuntunannya .
---------
Senja tersenyum pada Rena yang tampak tertidur pulas sambil tersenyum , sebutir airmata mengalir di pipinya .
"Tidurlah Ren!Mimpi yang indah!Berbahagialah disana!Kamu gak akan pernah jadi orang terakhir bagiku!" .
Dirapikannya tempat tidur Rena , ditangkupkannya kedua tangan Rena diatas perutnya , dirapikannya rambut Rena yang tampak sedikit berantakan . LAlu perlahan dia membungkuk dan mencium pipi Rena lembut . Senja melihat Satria dan Keke yang berdiri di pintu kamar lalu tersenyum pada mereka .
"Rena udah tidur pulas!Moga mimpinya indah , dan moga dia tahu bahwa dia gak pernah jadi orang terakhir seperti yang selalu dia rasakan selama ini!" , ucap Senja . Satria tampak terpukul sedangkan Keke sudah menangis sesenggukan sambil berjalan menghampiri tempat tidur .
-dinar-200911-
deeo
Selasa, 20 September 2011
Kamis, 15 September 2011
Orang Terakhir 4
Denpasar , 15 September 2011
"Ini...." , aku terpaku akan pemandangan di depanku . Senja membawaku ke sebuah atap bangunan tua di dekat kampus .
"Aku sering kemari kalau lagi sedih , atau ingin melarikan diri dari banyak hal!" , ucapnya .
Pemandangan senja hari ini tampak indah dimataku . Gradasi warna di langit sana tampak seperti bentangan kain panjang yang tak ada habisnya . Indah dan tak terbatas . Senja menepuk pundakku dan menunjukkan sebuah bangku kursi panjang yang ada disitu . Aku dan dia lalu bersama-sama menuju kursi itu dan duduk bersisian . Tak banyak yang kami bicarakan , kami malah asyik memandangi langit senja dari situ .
"hei , itu awannya kayak bunga ya!" , serunya tiba-tiba . Aku memandang awan yang ditunjuknya dan tersenyum .
"Yang itu malah kayak rumah!" , tunjukku balik .
"weee.....rumah darimana!" .
"Jeeeee.....itu ada segitiga atapnya terus kotak gitu!" .
"Ah...daya khayalmu berlebihan!" .
Kami lalu berdebat tentang banyak bentuk awan yang kami tunjuk , Senja sering kali membantah semua hal yang kukatakan mirip awan yang kutunjuk . Hingga tak terasa , awan-awan itu tampak menggelap dan tampak bertabur bingtang .
"Kamu kalah , awan yang barusan memang mirip ice cream tauk!" , ucapku sewot yang lalu membuatnya tertawa . Aku mendelik kesal padanya .
"Aku lebih baik melihatmu seperti ini daripada kamu murung kayak tadi!" , kata-katanya barusan membuatku teringat akan hasil pemeriksaan Andre tadi siang dan entah apa yang merasuki pikiranku namun tiba-tiba saja aku sudah menumpahkan semua yang ada dipikiranku , semuanya . Tentang Satria , tentang sakitku . Ya sakitku .
Senja mentapku tak percaya lalu segera menarikku pergi dari situ .
"Mau kemana lagi?" , tanyaku panik karena wajah datarnya itu .
"Ke rumah sakit!Kita coba opsi dokter yang lain!" , jawabnya .
"Gak perlu...gak perlu..." , teriakku .
"Udaaaahhhhh...ikut aja!" .
Senja terus menarikku dan menaikkanku ke motornya lalu membawaku pergi .
"Ini...." , aku terpaku akan pemandangan di depanku . Senja membawaku ke sebuah atap bangunan tua di dekat kampus .
"Aku sering kemari kalau lagi sedih , atau ingin melarikan diri dari banyak hal!" , ucapnya .
Pemandangan senja hari ini tampak indah dimataku . Gradasi warna di langit sana tampak seperti bentangan kain panjang yang tak ada habisnya . Indah dan tak terbatas . Senja menepuk pundakku dan menunjukkan sebuah bangku kursi panjang yang ada disitu . Aku dan dia lalu bersama-sama menuju kursi itu dan duduk bersisian . Tak banyak yang kami bicarakan , kami malah asyik memandangi langit senja dari situ .
"hei , itu awannya kayak bunga ya!" , serunya tiba-tiba . Aku memandang awan yang ditunjuknya dan tersenyum .
"Yang itu malah kayak rumah!" , tunjukku balik .
"weee.....rumah darimana!" .
"Jeeeee.....itu ada segitiga atapnya terus kotak gitu!" .
"Ah...daya khayalmu berlebihan!" .
Kami lalu berdebat tentang banyak bentuk awan yang kami tunjuk , Senja sering kali membantah semua hal yang kukatakan mirip awan yang kutunjuk . Hingga tak terasa , awan-awan itu tampak menggelap dan tampak bertabur bingtang .
"Kamu kalah , awan yang barusan memang mirip ice cream tauk!" , ucapku sewot yang lalu membuatnya tertawa . Aku mendelik kesal padanya .
"Aku lebih baik melihatmu seperti ini daripada kamu murung kayak tadi!" , kata-katanya barusan membuatku teringat akan hasil pemeriksaan Andre tadi siang dan entah apa yang merasuki pikiranku namun tiba-tiba saja aku sudah menumpahkan semua yang ada dipikiranku , semuanya . Tentang Satria , tentang sakitku . Ya sakitku .
Senja mentapku tak percaya lalu segera menarikku pergi dari situ .
"Mau kemana lagi?" , tanyaku panik karena wajah datarnya itu .
"Ke rumah sakit!Kita coba opsi dokter yang lain!" , jawabnya .
"Gak perlu...gak perlu..." , teriakku .
"Udaaaahhhhh...ikut aja!" .
Senja terus menarikku dan menaikkanku ke motornya lalu membawaku pergi .
Selasa, 13 September 2011
coretan orang terakhir
Denpasar , 13 Agustus 2011
Baru tersadar saat dia menghilang.....
Baru teringat saat dia telah pergi...
Dan kehilangannya dengan sangat....
Dia yang selalu disisimu....
Menyemangatimu....mendukungmu....
Dia yang setia mendampingimu....
Disaat jatuh dan terpuruk....
Dan dia yang selalu tersenyum untukmu di sudut sana....
Saat melihatmu tertawa bahagia...tanpa mengingatnya....
Dia tak butuh pengakuan....
Dia tak harapkan balasan....
Karena dia tulus....
Karena bagi dia hanya itu yang bisa dilakukannya....
Mencintaimu...tulus.....
Hanya itu....
-dinar-130811-
Baru tersadar saat dia menghilang.....
Baru teringat saat dia telah pergi...
Dan kehilangannya dengan sangat....
Dia yang selalu disisimu....
Menyemangatimu....mendukungmu....
Dia yang setia mendampingimu....
Disaat jatuh dan terpuruk....
Dan dia yang selalu tersenyum untukmu di sudut sana....
Saat melihatmu tertawa bahagia...tanpa mengingatnya....
Dia tak butuh pengakuan....
Dia tak harapkan balasan....
Karena dia tulus....
Karena bagi dia hanya itu yang bisa dilakukannya....
Mencintaimu...tulus.....
Hanya itu....
-dinar-130811-
Jumat, 09 September 2011
Orang Terakhir 03
Denpasar , 09 September 2011
Senja menurunkanku tepat di depan Satria yang langsung terkejut melihat bagaimana cara Senja membawaku . Aku tersenyum masam pada Satria .
"Hei!" , sapanya .
"Hei!" , balasku canggung .
"Lama gak ngeliat kamu!" , ucap Satria membuatku mengangguk pelan . Bagaimana aku bisa melihatmu kalau tiap kali melihatmu yang ada hanya rasa sakit hati , batinku .
'Haiiiissss...apa ini!" , ucap Senja membuatku terkejut . Aku memandanginya yang membuka dompet dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dan mengulurkannya pada Satria .
"Nih , aku bayar utangnya dia ke kamu!" , aku melongo mendengar kata-kata Senja itu . Dia memang benar-benar gila!
"Ikut aku!" , aku memegang tangannya dan menariknya berlalu dari hadapan Satria .
"Bye Sat!" , pamitku .
Senja bingung tapi tetap mengikutiku . Setibanya diparkiran kampus aku menatapnya tajam .
"Gak usah ikut campur masalahku lagi!!!!!" , bentakku .
"Aku gak butuh bantuanmu!" .
"Lho , aku cuma mau berbaik hati , habisnya kamu selalu menghindar tiap kali ngeliat dia , apalagi kalau bukan kamu punya utang ke dia?' ,ucapnya dengan tampang polos .
"Kamu gila ya?" , aku keheranan mendengar pembelaannya , bisa-bisanya dia mengira aku memiliki hutang pada Satria , aku menggeleng putus asa .
"Thanks buat perhatianmu , tapi aku gak punya utang apa pun ke Satria , jadi jangan salah menilai lagi!" , aku lalu memutuskan untuk pergi dan berlalu dari hadapannya , pulang ke kos akan sangat mendamaikan hati . Pulang ke tempat bahagiaku .
"Hai!" , sapanya di pelataran kampus , membuatku langsung membuang muka dan mempercepat jalanku menghindar darinya. Hari ini aku lagi tak ingin menghadapi hal lainnya . Kata-kata Andre beberapa jam yang lalu membuatku melangkah gontai dalam perjalanan pulang .
"Hei!"" , dia mencekal lenganku menghentikan langkahku .
"Apa sih!" , ujarku ketus .
"Ikut aku!" , dia lalu menarikku dari situ .
"Eh...." .
-bersambung-
Senja menurunkanku tepat di depan Satria yang langsung terkejut melihat bagaimana cara Senja membawaku . Aku tersenyum masam pada Satria .
"Hei!" , sapanya .
"Hei!" , balasku canggung .
"Lama gak ngeliat kamu!" , ucap Satria membuatku mengangguk pelan . Bagaimana aku bisa melihatmu kalau tiap kali melihatmu yang ada hanya rasa sakit hati , batinku .
'Haiiiissss...apa ini!" , ucap Senja membuatku terkejut . Aku memandanginya yang membuka dompet dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dan mengulurkannya pada Satria .
"Nih , aku bayar utangnya dia ke kamu!" , aku melongo mendengar kata-kata Senja itu . Dia memang benar-benar gila!
"Ikut aku!" , aku memegang tangannya dan menariknya berlalu dari hadapan Satria .
"Bye Sat!" , pamitku .
Senja bingung tapi tetap mengikutiku . Setibanya diparkiran kampus aku menatapnya tajam .
"Gak usah ikut campur masalahku lagi!!!!!" , bentakku .
"Aku gak butuh bantuanmu!" .
"Lho , aku cuma mau berbaik hati , habisnya kamu selalu menghindar tiap kali ngeliat dia , apalagi kalau bukan kamu punya utang ke dia?' ,ucapnya dengan tampang polos .
"Kamu gila ya?" , aku keheranan mendengar pembelaannya , bisa-bisanya dia mengira aku memiliki hutang pada Satria , aku menggeleng putus asa .
"Thanks buat perhatianmu , tapi aku gak punya utang apa pun ke Satria , jadi jangan salah menilai lagi!" , aku lalu memutuskan untuk pergi dan berlalu dari hadapannya , pulang ke kos akan sangat mendamaikan hati . Pulang ke tempat bahagiaku .
"Hai!" , sapanya di pelataran kampus , membuatku langsung membuang muka dan mempercepat jalanku menghindar darinya. Hari ini aku lagi tak ingin menghadapi hal lainnya . Kata-kata Andre beberapa jam yang lalu membuatku melangkah gontai dalam perjalanan pulang .
"Hei!"" , dia mencekal lenganku menghentikan langkahku .
"Apa sih!" , ujarku ketus .
"Ikut aku!" , dia lalu menarikku dari situ .
"Eh...." .
-bersambung-
Selasa, 23 Agustus 2011
Orang Terakhir 2
Denpasar , 23 Agustus 2011
Sudah seminggu ini aku menghindari Satria , kami seperti bermain petak umpet . Tiap kali dia melihatku , aku langsung meghilang sebelum dia sempat mengejarku . Telepon darinya tak pernah kuangkat , sms-nya pun hanya kubalas dengan kata sibuk . Sebenarnya aku sangat tak menyukai hal ini , kekanakan sekali , tapi aku memang benar-benar tidak sanggup menemuinya sementara ini .
Aku berlari kecil menyususri koridor kampus saat ini , dibelakangku Satria mengejarku sambil memanggil namaku . Tiba-tiba seseorang menarik tanganku masuk ke kelas kosong sambil membekap mulutku saat aku akan berteriak .
"Ssssstttt....kamu mau sembunyi dari dia kan?" , tanyanya dan saat itulah aku baru melihatnya . Senja . Aku mengangguk menjawab pertanyaannya . Dia lalu melepaskan bekapannya dari mulutku . Satria berlari melewati ruangan itu dan aku langsung menghela nafas melihatnya .
"Seru banget kalian , aku boleh ikut main gak?" , tanyanya membuatku mendelik kesal . Senja , ya Senja...siapa yang tidak tahu dia . Berandalan kampus yang banyak membuat onar karena kenakalannya dan banyak membuat cewek-cewek gila karena ketampananya .
"Gak usah ikut campur!" , jawabku ketus dan aku segera berjalan keluar dari kelas itu , pulang .
**
"Sembunyi lagi?" , tanya seseorang yang membuatku terjungkal dari jongkokku karena terkejut . Aku tak menyadari seseorang yang ikut jongkok disampingku . Kulihat Senja disana tersenyum jahil padaku . Bagaimana bisa dia ada disini , pikirku . Aku segera bangkit setelah Satria tak tampak lagi dari pandanganku .
"Kenapa mesti sembunyi sih?Kamu ada utang ya ke dia?" . Aku mendelik kesal padanya dan bergegas berlalu dari hadapannya , tapi dia malah mencekalku .
"Eh , mau ngapain kamu?" , aku menatapnya tajam saat itu .
"Bantuin kamu,bayar utang ke dia!" , lalu ditariknya aku kearah dimana aku terakhit melihat Satria tadi . Aku berontak tapi tak sanggup melepaskan cekalan tangannya di tanganku .
"Lepasin!Lepasin!Lepasin!!" , teriakku .
"Udah tenang aja!" , aku semakin panik mendengar jawabannya itu dan semakin keras memberontak . Tiba-tiba dia berbalik menatapku dan aku pun terkejut melihatnya , lalu tanpa kusangka-sangka dia meraih dan membopongku segera . Aku shock hingga tak tahu harus berkata apa . Tapi begitu tersadar....
"Senjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......................" .
dinar-030911-
-bersambung-
Sudah seminggu ini aku menghindari Satria , kami seperti bermain petak umpet . Tiap kali dia melihatku , aku langsung meghilang sebelum dia sempat mengejarku . Telepon darinya tak pernah kuangkat , sms-nya pun hanya kubalas dengan kata sibuk . Sebenarnya aku sangat tak menyukai hal ini , kekanakan sekali , tapi aku memang benar-benar tidak sanggup menemuinya sementara ini .
Aku berlari kecil menyususri koridor kampus saat ini , dibelakangku Satria mengejarku sambil memanggil namaku . Tiba-tiba seseorang menarik tanganku masuk ke kelas kosong sambil membekap mulutku saat aku akan berteriak .
"Ssssstttt....kamu mau sembunyi dari dia kan?" , tanyanya dan saat itulah aku baru melihatnya . Senja . Aku mengangguk menjawab pertanyaannya . Dia lalu melepaskan bekapannya dari mulutku . Satria berlari melewati ruangan itu dan aku langsung menghela nafas melihatnya .
"Seru banget kalian , aku boleh ikut main gak?" , tanyanya membuatku mendelik kesal . Senja , ya Senja...siapa yang tidak tahu dia . Berandalan kampus yang banyak membuat onar karena kenakalannya dan banyak membuat cewek-cewek gila karena ketampananya .
"Gak usah ikut campur!" , jawabku ketus dan aku segera berjalan keluar dari kelas itu , pulang .
**
"Sembunyi lagi?" , tanya seseorang yang membuatku terjungkal dari jongkokku karena terkejut . Aku tak menyadari seseorang yang ikut jongkok disampingku . Kulihat Senja disana tersenyum jahil padaku . Bagaimana bisa dia ada disini , pikirku . Aku segera bangkit setelah Satria tak tampak lagi dari pandanganku .
"Kenapa mesti sembunyi sih?Kamu ada utang ya ke dia?" . Aku mendelik kesal padanya dan bergegas berlalu dari hadapannya , tapi dia malah mencekalku .
"Eh , mau ngapain kamu?" , aku menatapnya tajam saat itu .
"Bantuin kamu,bayar utang ke dia!" , lalu ditariknya aku kearah dimana aku terakhit melihat Satria tadi . Aku berontak tapi tak sanggup melepaskan cekalan tangannya di tanganku .
"Lepasin!Lepasin!Lepasin!!" , teriakku .
"Udah tenang aja!" , aku semakin panik mendengar jawabannya itu dan semakin keras memberontak . Tiba-tiba dia berbalik menatapku dan aku pun terkejut melihatnya , lalu tanpa kusangka-sangka dia meraih dan membopongku segera . Aku shock hingga tak tahu harus berkata apa . Tapi begitu tersadar....
"Senjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......................" .
dinar-030911-
-bersambung-
Senin, 22 Agustus 2011
Orang Terakhir 1
Denpasar , 22 Agustus 2011
Pernah merasa sangat kesepian di dunia ini? Pernah merasa ditempat yang sangat ramai tapi sama sekali sunyi? Pasti pernah , aku yakin itu . Karena aku juga pernah merasakan dan mengalaminya selama hidupku ini .
"Rena!" , panggil Satria yang langsung mengambil tempat duduk di depanku . Aku tersadar dari lamunanku dan tersenyum padanya .
"Apa?" , tanyaku padanya yang tampak menyembunyikan sesuatu yang membuatnya bahagia .
"Tebak dong!" . aku mengerutkan kening sejenak , pura-pura berpikir . Sejujurnya aku sudah tahu apa yang membuatnya tampak bahagia seperti itu , tapi kalau aku menebaknya dengan benar , aku takkan bisa menunjukkan ekspresi terkejut yang sudah dua hari ini aku persiapkan .
"Gak tau aku Sat!" , ucapku sambil menggeleng , dan ketidak tahuanku menambah lebar senyumnya .
"Aku......jadian....ma Keke...." , ucapnya sambil menekan tiap kata itu , dan seperti yang sudah aku persiapkan , aku pun langsung memasang muka ' OMG MASAK SIH ' , yang sudah kupersiapkan dari kemarin . Satria meraih tanganku dan menggenggamnya erat sambil mengatakan terima kasih berulang kali .
"Ya...ya...lalu buat apa terima kasih itu?Aku gak membantu kamu sama sekali!" , senyumku .
"Gak bantu gimana , kamu udah banyak banget bantu aku tau Ren!" , binar mata itu membuatku melupakan laraku . Ya , aku memang mencintai sahabatku yang satu ini , sahabatku dari awal masuk kuliah , sahabat seperjuanganku dari saat ospek . Keke muncul di belakang Satria dan menepuk pundaknya halus sambil tersenyum padaku . Aku membalas senyumnya .
"Liat nih , sahabatku jadi gila gini gara-gara kamu!" , omelku .
"Enak aja!" , Satria langsung melepaskan genggaman tangannya dan berdiri disamping Keke . Ada rasa tak rela saat itu , tapi segera kutepis dan menatap mereka berdua sambil tersenyum selebar mungkin .
"Jagain satria Ke , kali ini kamu yang ketiban sial , aku mau pensiun dulu!" , ucapku yang membuat Keke tertawa kecil sambil mengangguk . Melihat tawanya tadi , aku jadi bisa mengerti mengapa Satria sangat tergila-gila padanya . Aku meraih tasku dan berdiri .
"Mau kemana Ren?Kita mau traktir kamu lho!" , Satria menatapku memohon .
"Pulang ke kos tauk , aku ada tugas dari Pak Heri , deadline besok!Udah kalian aja yang makan sana!" .
"Ntar kalo aku ada waktu baru kutagih traktirannya!" , Satria berdecak dan melotot padaku .
"Dasar perhitungan gak mau rugi!" , celetuknya sinis membuatku menjulurkan lidahku mengejeknya .
"Ke , aku balik ya!Kalo dia kambuh , buang aja ke sumur!" , pamitku pada Keke dan segera berlalu dari hadapan mereka . Kalau aku berada disana 5 menit lagi , aku pasti sudah tak sanggup bersandiwara dengan sangat baik . Kali ini aku merasa bersyukur mendapat tugas dari Pak Heri dosenku karena tugas itu mampu menyelamatkanku dari pasangan kekasih yang paling membuatku sakit hati di dunia ini .
Aku melemparkan tasku sembarangan begitu memasuki kamarku dan begitu menutup pintu , airmataku pun langsung tumpah tanpa bisa kutahan lagi . Aku menangis sejadi-jadinya dan semua kenangan kami berdua berputar di kepalaku . Aku harus menghapusnya , aku harus mengikhlaskannya , karena aku hanya ingin sahabatku bahagia . Aku hanya ingin orang yang kucintai bahagia .
Tuhan , kalau memang ini jalanku , maka mudahkanlah aku melupakannya , doaku saat itu
- bersambung -
-dinar-220811-
Pernah merasa sangat kesepian di dunia ini? Pernah merasa ditempat yang sangat ramai tapi sama sekali sunyi? Pasti pernah , aku yakin itu . Karena aku juga pernah merasakan dan mengalaminya selama hidupku ini .
"Rena!" , panggil Satria yang langsung mengambil tempat duduk di depanku . Aku tersadar dari lamunanku dan tersenyum padanya .
"Apa?" , tanyaku padanya yang tampak menyembunyikan sesuatu yang membuatnya bahagia .
"Tebak dong!" . aku mengerutkan kening sejenak , pura-pura berpikir . Sejujurnya aku sudah tahu apa yang membuatnya tampak bahagia seperti itu , tapi kalau aku menebaknya dengan benar , aku takkan bisa menunjukkan ekspresi terkejut yang sudah dua hari ini aku persiapkan .
"Gak tau aku Sat!" , ucapku sambil menggeleng , dan ketidak tahuanku menambah lebar senyumnya .
"Aku......jadian....ma Keke...." , ucapnya sambil menekan tiap kata itu , dan seperti yang sudah aku persiapkan , aku pun langsung memasang muka ' OMG MASAK SIH ' , yang sudah kupersiapkan dari kemarin . Satria meraih tanganku dan menggenggamnya erat sambil mengatakan terima kasih berulang kali .
"Ya...ya...lalu buat apa terima kasih itu?Aku gak membantu kamu sama sekali!" , senyumku .
"Gak bantu gimana , kamu udah banyak banget bantu aku tau Ren!" , binar mata itu membuatku melupakan laraku . Ya , aku memang mencintai sahabatku yang satu ini , sahabatku dari awal masuk kuliah , sahabat seperjuanganku dari saat ospek . Keke muncul di belakang Satria dan menepuk pundaknya halus sambil tersenyum padaku . Aku membalas senyumnya .
"Liat nih , sahabatku jadi gila gini gara-gara kamu!" , omelku .
"Enak aja!" , Satria langsung melepaskan genggaman tangannya dan berdiri disamping Keke . Ada rasa tak rela saat itu , tapi segera kutepis dan menatap mereka berdua sambil tersenyum selebar mungkin .
"Jagain satria Ke , kali ini kamu yang ketiban sial , aku mau pensiun dulu!" , ucapku yang membuat Keke tertawa kecil sambil mengangguk . Melihat tawanya tadi , aku jadi bisa mengerti mengapa Satria sangat tergila-gila padanya . Aku meraih tasku dan berdiri .
"Mau kemana Ren?Kita mau traktir kamu lho!" , Satria menatapku memohon .
"Pulang ke kos tauk , aku ada tugas dari Pak Heri , deadline besok!Udah kalian aja yang makan sana!" .
"Ntar kalo aku ada waktu baru kutagih traktirannya!" , Satria berdecak dan melotot padaku .
"Dasar perhitungan gak mau rugi!" , celetuknya sinis membuatku menjulurkan lidahku mengejeknya .
"Ke , aku balik ya!Kalo dia kambuh , buang aja ke sumur!" , pamitku pada Keke dan segera berlalu dari hadapan mereka . Kalau aku berada disana 5 menit lagi , aku pasti sudah tak sanggup bersandiwara dengan sangat baik . Kali ini aku merasa bersyukur mendapat tugas dari Pak Heri dosenku karena tugas itu mampu menyelamatkanku dari pasangan kekasih yang paling membuatku sakit hati di dunia ini .
Aku melemparkan tasku sembarangan begitu memasuki kamarku dan begitu menutup pintu , airmataku pun langsung tumpah tanpa bisa kutahan lagi . Aku menangis sejadi-jadinya dan semua kenangan kami berdua berputar di kepalaku . Aku harus menghapusnya , aku harus mengikhlaskannya , karena aku hanya ingin sahabatku bahagia . Aku hanya ingin orang yang kucintai bahagia .
Tuhan , kalau memang ini jalanku , maka mudahkanlah aku melupakannya , doaku saat itu
- bersambung -
-dinar-220811-
Senin, 18 Juli 2011
Cinta Hujan 05 -akhir-
"Lo tau kenapa gue bernama Windu?" , tanyanya membuatku mengerutkan kening . Dia mengangkat kepalanya dari bahuku dan menatapku tajam .
"Karena cuma rentang waktu satu windu gue bisa menemui lo lagi!" .
"Hah?" , aku semakin bingung mendengar kata-katanya .
"Karena gue adalah Windu Satria sang pangeran hujan!" .
"Kita ketemu waktu lo masih kecil!Waktu gue ditugasin pertama kalianya untuk turun ke bumi!" , terangnya tanpa memberiku waktu berpikir .
"Pas gue turun , lo lagi nangis karena jatuh dari sepeda , dan lo gak jadi nangis karena gue turun membasahi bumi!" .
"Gue inget kata-kata lo..."
"Aku cinta hujan..." , sambungku . Aku memang sangat mencintai hujan , karena tak tahu kenapa , saat aku sedang menangis atau bersedih , hujan selalu turun dan seolah-olah menggantikan tangisku .
"Tapi semua ini?" , aku masih tak percaya dengan semuanya .
"Semuanya adalah jalan yang telah aku persiapkan untukmu!Sejak awal , di pesawat , Ken , dan pertemuan kita hari ini!Karena aku ingin bertemu denganmu sekali saja" .
"Semua itu tak nyata , setelah aku pergi , kamu akan melupakanku dan kamu akan kembali ke hidupmu di Malang!" . Aku menggelengkan kepalaku , pening .
Dia menyentuh wajahku lembut , dan tersenyum .
"Setiap satu windu berlalu aku akan melihatmu lebih dekat , tapi aku takkan pernah merekayasa hidupmu lagi , karena aku lebih suka saat kamu tersenyum!Maaf membuatmu jatuh cinta padaku!" , ucapnya sambil mengusap airmataku .
"Aku akan selalu didekatmu!" , ucapnya lirih dan tiba-tiba Windu pecah menjadi butiran-butiran air dan hujan turun dengan derasnya dalam butiran halusnya . Aku menatapnya , merangkaikan semuanya dan masih tak percaya karena dia pergi begitu saja dari hadapanku . Hingga setelah tertegun beberapa saat aku baru tersadar dan aku menghampiri tebing didekat kursi dan memandang lautan luas di depan yang perlahan mengabur . Aku memandang berkeliling dan melihat bangunan hotel ikut memudar dan mulai menangis sambil kembali memandang lautan luas di depan .
"Windu , aku akan selalu cinta hujan!Karena dia adalah kamu!Aku gak akan nangis sering-sering, tapi kamu tetap harus turun sering-sering!Walau aku mungkin gak mengingatmu , tapi kamu harus tetap mengingatku!" , aku berteriak di pinggir tebing dengan laut sebagai saksi dan kemudian aku tak mengingat apa-apa lagi .
"Heh , bengong mulu!" , ujar adikku . Aku tergagap dan mengalihkan pandanganku dari jendela kamar kos miliknya .
"Aku barusan tidur Ding?" , tanyaku bingung .
"Tidur dari hongkong , mata melek gitu!" , ucapnya sambil memberikan lalapan ayam untuk makan siangku . Aku mengalihkan pandangan ke jendela lagi , menikmati hujan yang turun .
"Aku kayak ngerasa ketiduran trus mimpi , tapi gak inget deh mimpi apa!" , gumamku .
"Kamu terlalu banyak ngayal na!Udah makan dulu , ntar keburu si Windu ilang!" .
"Hah?" , tanyaku sambil menatap adikku .
"APA?" , tanya Gading balik .
"Kamu bilang Windu?" .
"Jiaaaaahhhhhh...aku gak ngomongg apa-apa!" , ucap Gading sewot . Aku kebingungan , karena aku merasa mendengarnya bicara tentang seseorang bernama Windu , yang namanya seakan tak asing lagi di telingaku .
"Udahh...makan-makan , tumben susah banget mau makan!" , omel adikku . Aku kembali mengalihkan pandanganku ke jendela kamar dan menikmati hujan sambil tersenyum , kemudian segera menyantap makananku daripada si Gading ngomel lagi .
Betapa aku mencintai hujan setiap kali dia turun..........( Dinda )
aku selalu disisimu........( Windu )
- end -
-dinar-180711-
note : aku memang sangat mencintai hujan
"Karena cuma rentang waktu satu windu gue bisa menemui lo lagi!" .
"Hah?" , aku semakin bingung mendengar kata-katanya .
"Karena gue adalah Windu Satria sang pangeran hujan!" .
"Kita ketemu waktu lo masih kecil!Waktu gue ditugasin pertama kalianya untuk turun ke bumi!" , terangnya tanpa memberiku waktu berpikir .
"Pas gue turun , lo lagi nangis karena jatuh dari sepeda , dan lo gak jadi nangis karena gue turun membasahi bumi!" .
"Gue inget kata-kata lo..."
"Aku cinta hujan..." , sambungku . Aku memang sangat mencintai hujan , karena tak tahu kenapa , saat aku sedang menangis atau bersedih , hujan selalu turun dan seolah-olah menggantikan tangisku .
"Tapi semua ini?" , aku masih tak percaya dengan semuanya .
"Semuanya adalah jalan yang telah aku persiapkan untukmu!Sejak awal , di pesawat , Ken , dan pertemuan kita hari ini!Karena aku ingin bertemu denganmu sekali saja" .
"Semua itu tak nyata , setelah aku pergi , kamu akan melupakanku dan kamu akan kembali ke hidupmu di Malang!" . Aku menggelengkan kepalaku , pening .
Dia menyentuh wajahku lembut , dan tersenyum .
"Setiap satu windu berlalu aku akan melihatmu lebih dekat , tapi aku takkan pernah merekayasa hidupmu lagi , karena aku lebih suka saat kamu tersenyum!Maaf membuatmu jatuh cinta padaku!" , ucapnya sambil mengusap airmataku .
"Aku akan selalu didekatmu!" , ucapnya lirih dan tiba-tiba Windu pecah menjadi butiran-butiran air dan hujan turun dengan derasnya dalam butiran halusnya . Aku menatapnya , merangkaikan semuanya dan masih tak percaya karena dia pergi begitu saja dari hadapanku . Hingga setelah tertegun beberapa saat aku baru tersadar dan aku menghampiri tebing didekat kursi dan memandang lautan luas di depan yang perlahan mengabur . Aku memandang berkeliling dan melihat bangunan hotel ikut memudar dan mulai menangis sambil kembali memandang lautan luas di depan .
"Windu , aku akan selalu cinta hujan!Karena dia adalah kamu!Aku gak akan nangis sering-sering, tapi kamu tetap harus turun sering-sering!Walau aku mungkin gak mengingatmu , tapi kamu harus tetap mengingatku!" , aku berteriak di pinggir tebing dengan laut sebagai saksi dan kemudian aku tak mengingat apa-apa lagi .
"Heh , bengong mulu!" , ujar adikku . Aku tergagap dan mengalihkan pandanganku dari jendela kamar kos miliknya .
"Aku barusan tidur Ding?" , tanyaku bingung .
"Tidur dari hongkong , mata melek gitu!" , ucapnya sambil memberikan lalapan ayam untuk makan siangku . Aku mengalihkan pandangan ke jendela lagi , menikmati hujan yang turun .
"Aku kayak ngerasa ketiduran trus mimpi , tapi gak inget deh mimpi apa!" , gumamku .
"Kamu terlalu banyak ngayal na!Udah makan dulu , ntar keburu si Windu ilang!" .
"Hah?" , tanyaku sambil menatap adikku .
"APA?" , tanya Gading balik .
"Kamu bilang Windu?" .
"Jiaaaaahhhhhh...aku gak ngomongg apa-apa!" , ucap Gading sewot . Aku kebingungan , karena aku merasa mendengarnya bicara tentang seseorang bernama Windu , yang namanya seakan tak asing lagi di telingaku .
"Udahh...makan-makan , tumben susah banget mau makan!" , omel adikku . Aku kembali mengalihkan pandanganku ke jendela kamar dan menikmati hujan sambil tersenyum , kemudian segera menyantap makananku daripada si Gading ngomel lagi .
Betapa aku mencintai hujan setiap kali dia turun..........( Dinda )
aku selalu disisimu........( Windu )
- end -
-dinar-180711-
note : aku memang sangat mencintai hujan
Langganan:
Komentar (Atom)