Aku memandang keluar jendela pesawat dan melihat kota Surabaya yang kutinggalkan sambil tersenyum . Tak kukenali lagi kota Malang dari atas sini , karena dia tampak mengecil dan jauh saat ini . Adikku pun begitu , tampak jauh sekali saat ini , ah andai dia tahu kakaknya ini sebenarnya kesepian . Aku menggelengkan kepala dan menghela nafas , aku tak boleh egois dan bagaimana pun juga kami berdua nantinya kan memiliki kehidupan sendiri-sendiri . Setidaknya aku berharap keputusanku untuk hijrah dan meninggalkannya akan membuatnya terpacu dan segera menyelesaikan skripsinya itu . Karena cuma itu yang Bapak , Ibu , dan aku harapkan darinya . Tak terasa air mataku menetes dan semakin lama semakin deras dan tak terhentikan , tiba-tiba sebuah tepukan pelan terasa di pundakku . Saat aku menoleh , kulihat sebuah sapu tangan terulur padaku . Aku melihat pria yang duduk disampingku itu menyodorkan sapu tangan miliknya .
"Pake aja!" , ucapnya tegas , dan aku pun berterima kasih dan mengambilnya .
"Aku akan ganti sapu tanganmu nanti , boleh minta alamatmu?Biar aku bisa mengirimkannya" .
"Gak perlu , lo pake aja !Gue masih banyak sapu tangan , aku cuma gak suka ngeliat orang nangis!" , ujarnya tegas . Aku tersenyum,lalu sekali lagi aku mengucapkan terima kasih .
Pesawat mendarat di bandara Ngurah Rai-Denpasar , dan aku pun segera turun setelah mengambil tas ranselku .
"Terima kasih sekali lagi Mas , dan selamat tinggal!" , ucapku sambil menepuk bahunya saat aku mendahuluinya di pintu keluar . Aku memasuki taksi dan meninggalkan bandara , dan saat melewati sebuah mobil humvee putih aku melihat pria itu sekali lagi , aku melihatnya dengan seksama dan mengingat wajah Takeshi Kaneshiro miliknya dengan baik . Sebenarnya sejak dia mengulurkan sapu tangannya untukku aku sudah pasti akan selalu mengingatnya , hanya saja karena aku tahu , kami takkan pernah bertemu lagi maka ku tanamkan wajahnya baik-baik di kepalaku . Tubuhnya yang tinggi atletis dan sikapnya yang misterius begitu mengusikku , tapi aku menggelengkan kepala sekali lagi dan menghela nafas , kamu takkan pernah bisa mendapatkan orang seperti itu karena orang-orang terbaik pasti sudah ada yang memiliki . Aku menyandarkan badanku dan menatap jalanan di kota ini . Kota baru yang akan kutinggali sampai waktu yang belum bisa kutentukan . Lalu taksi itu berhenti di sebuah rumah dan aku pun segera turun dan membayarnya .
"Selamat datang di kehidupan barumu Dinda!" , gumamku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar